Indonesia sering mendapatkan pembangkit listrik kualitas buruk, ini alasannya


Pemerintahan Era Jokowi-JK sekarang ini sedang gencar-gencarnya membangun sektor infrastruktur, termasuk proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt. Pembangkit tersebut diharapkan bisa memenuhi kebutuhan listrik seluruh rakyat Indonesia, termasuk juga industri.

Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengapresiasi megaproyek tersebut. Akan tetapi, dia mengkhawatirkan soal pendanaan yang sangat besar dalam pembangunan ini. Minimnya pendanaan dalam negeri, proyek tersebut dikhawatirkan dari sisi kualitas. Indonesia bahkan disebut sering mendapatkan pembangkit listrik berkualitas rendah.

"Mesin-mesin pembangkit KW 2 dan 3 karena uang sedikit, baru digunakan beberapa tahun sudah rusak, ini China," ucap Tulus Abadi.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi mengaku bahwa pembangkit listrik KW 2 tidak layak digunakan. Tapi, Rinaldy Dalimi menegaskan, kualitas akan sama dengan harga yang dibayar, terlepas dari pembangkit tersebut buatan China atau bukan.

"Di Indonesia ada 2 pembangkit China yang bagus di Sumatera Selatan (Sumsel), PLTU bersih dan bagus, saat ditanya kenapa tidak bangun? Ya kita bangun sesuai uang yang ada. Nah ini akibat sistem tender kita yang menekankan pada harga terendah bukan kualitas," kata Rinaldy Dalimi.

Lebih lanjut, alasan memilih harga terendah ketika tender, Rinaldy Dalimi mendapati bahwa penyelenggara tender khawatir akan berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) apabila memilih barang dengan standar kualitas yang berkorelasi dengan harga yang relatif lebih mahal.

"Saat di tanya kenapa? Dijawabnya: Saya tidak mau masuk KPK," ucap Rinaldy Dalimi.

Namun, jika barang yang dibeli sesuai dengan harga dan kualitas bagus kenapa harus takut. Kalau korupsi baru takut ditangkap KPK.
LIKE & SHARE

0 Response to "Indonesia sering mendapatkan pembangkit listrik kualitas buruk, ini alasannya"