Peternak sapi lokal kecewa dengan kebijakan pemerintahan Jokowi yang akan membuka keran impor sapi

Ilustrasi sapi
Peternak sapi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah menolak rencana Pemerintah Jokowi yang akan melakukan impor sapi. Kebijakan menambah kuota sapi impor dinilai terburu-buru, dan merugikan peternak sapi lokal. Para peternak sapi mengaku masih sanggup memberikan pasokan sapi untuk kebutuhan nasional.

"Kami sangat kecewa dengan kebijakan pemerintahan Jokowi yang akan membuka keran impor sapi sebanyak 50 ribu ekor. Sebagai peternak sapi lokal, kamilah yang akan dirugikan," ungkap Tarno, ketua paguyuban peternak sapi Sragen, Sabtu 15 Agustus 2015.

Tarno mengakui, dia dan anggota lainnya biasa memasok sapi ke sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta. Kebijakan impor sapi, justru akan melemahkan posisi peternak yang selama ini aktif memasok kebutuhan sapi. Mereka menilai gejolak yang terjadi beberapa waktu terakhir ini merupakan permainan pihak tertentu yang ingin bermain dalam sapi impor.

"Kami sangat menyayangkan jika pemerintah terburu-buru memutuskan kebijakan impor sapi, tanpa melihat langsung kondisi para peternak di tingkat bawah. Kebutuhan daging sapi di ibu kota masih bisa dicukupi dari para peternak lokal yang ada di banyak wilayah di Indonesia, termasuk Sragen," pungkasnya.

Seperti yang telah diketahui, pada kuartal 3 tahun 2015 ini, pemerintah sudah bersiap-siap untuk melakukan impor sapi dari Australia. Sebanyak 50 ribu ekor sapi akan didatangkan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi nasional. Meskipun demikian, kebijakan tersebut dinilai banyak kalangan merupakan kebijakan yang terburu-buru dan panik, dan tidak memperhatikan kepentingan peternak lokal.
LIKE & SHARE

0 Response to "Peternak sapi lokal kecewa dengan kebijakan pemerintahan Jokowi yang akan membuka keran impor sapi"